Proses Tambal Ban Tercepat di Sidoarjo Ada di Kec. Taman

“Tenang mas, proses tambal ban-nya hanya sampai 8 menit saja, monggo pinarak rumiyen” kata bapak paruh baya sembari memarkirkan motorku. Sambil melongo aku duduk di tempat yang telah disediakan sembari kagum melihat kecekatan bapak itu membongkar ban motor ku. Sebut saja namanya Pak Fulan.

Suasana cerah pagi itu mengharuskanku berangkat ke tempat magang lebih awal. Setelah bersiap-siap ku pacu kuda besi seri X melaju dengan kecepatan sedang menuju jalan raya. Hari ini adalah hari Rabu, kemungkinan macet tidak seperti hari awal orang-orang masuk kerja.

Jalan raya sudah terbentang 100 meter di depan ku, tapi aku merasa ada yang aneh dengan kondisi ban kuda besi kesayangan ini. Tak ku hiraukan, aku tetap memacu-nya dengan kecepatan sedang. Namun naas, setelah menyebrang dan mulai melaju di jalan raya apa yang aku rasakan tadi terbukti dengan kempesnya ban belakang. Untung saja tepat di sebelah kiri ku terpampang plakat bertuliskan “TAMBAL BAN”. Nah, untung saja, alhamdulillah.

Ku belok kan kuda besi ku menuju bapak penambal ban yang sedang sibuk melayani pelanggan tambah angin.

Aku : “Pak, kulo mau nambal ban disini pak.”

Bapak : “Oh iya Mas, monggo pinarak rumiyen.”

Sembari memarkirkan kuda besiku, beliau mempersilahkan aku duduk di temat yang telah beliau sediakan untuk pelanggan-pelanggannya.

Aku : “Enggeh Pak.”

Aku berguman dalam hati, karena ini bocor yang ke-3 setelah ganti ban dalam. Mungkin bapaknya menyadari keresahanku, belum sempat aku bertanya mengenai kondisi ban yang belum keluar dari rekatannya, Pak Fulan lebih dulu menayakan kondisi ban itu pada ku.

Bapak : “Sudah bocor berapa kali Mas?” tanya-nya sambil mengeluarkan isi ban luar.

Aku : “Sudah tiga kali Pak.” jawabku.

Bapak : “Biasanya, penyebab bocornya akibat dari sisa tambalan yang sudah mengelupas, Mas.” terang-nya sembari memompa ban dalam.

Benar juga, setelah di pompa untuk keperluan pemeriksaan, aku mendengar suara mendesis. Benar saja, suara tersebut berasal dari sisa tambalan yang telah mengelupas.

Bapak : “Nah. Benar to Mas” katanya sambil tersenyum.

Wih, keren sekali bapak ini. Gumanku. Belum juga memeriksa kondisi ban keseluruan aja udah tau letak permasalahannya.

Aku : “Wah, betul sekali Pak”. kataku sambil terkagum-kagum dengan kemampuan problem solving yang dimiliki-nya.

Setelah mendapatkan permasalahan utama, Pak Fulan melanjutkan pemeriksaan dengan memasukkan ban ke dalam bak penuh air sembari beliau meyakinkanku kalau pekerjaan-nya itu hanya butuh waktu 8 menit saja.

Bapak : “Tenang Mas, proses tambal ban-nya hanya 8 menit saja, ndak lama”.

Kaget, tentu saja, sambil mantuk-mantuk aku menjawabnya.

Aku : “Santai mawon Pak, kulo tidak keburu kok”.

Bapak : “Hla memang biasanya seperti itu kok Mas” jawabnya.

Dari sekian banyak penambal ban yang aku jumpai, baru tahu kali ini ada penambal ban yang mempunyai estimasi waktu untuk pekerjaanya. Apa lagi sebutannya kalau bukan Penambal Ban Professional. Aku tambah yakin dengan sebutan itu saat melihat cara kerja bapaknya yang menurutku beda. Ya pokoknya bedalah. Kecekatan, ketelitian, professionalitas. Bagaimana tidak, beliau sudah menekuni pekerjaanya kurang lebih sudah selama 20 tahun.

Aku : “Sudah berapa lama pak kerja disini?” tanya ku untuk mencairkan suasana.

Bapak : “Ya kalau di tempat ini sih sudah 5 tahun-an Mas, tapi kalau dihitung dengan tempat-tempat yang lain totalnya kurang-lebih 20 tahun, pindah-pindah soalnya Mas”.

Aku : “Wah, sudah cukup lama nggeh pak?”

Bapak : “Saya ndak kepikiran untuk kerja yang lain mas, soalnya saya merasa tentram menjalani pekerjaan ini, sudah nyaman” katanya dengan nada mantap.

Gile, baru kali ini aku menemuii seseorang yang benar-benar menikmati dan mencintai pekerjaannya mesipun pekerjaannya hanya sebagai penambal ban.

Bapak : “Jadi kunci dari hidup bahagia itu kita harus mencintai apa yang kita kerjakan Mas” imbuhnya.

Aku : “Oh, begitu yah Pak. Kira-kira njenengan asli mana Pak?” tanyaku lagi.

Bapak : “Saya asli sini aja Mas” katanya sambil menunjuk ke suatu Gang yang ada si sebrang jalan.

Waktu pun berlalu kurang dari 8 menit, perkerjaan beliau pun hampir rampung. Selesai menambal, beliau menambahkan angin sedikit ke ban dalam lalu di periksanya lagi ke bak air, setelah memasangnya seperti semua dan menambahkan angin, aku bertanya tarif jasa beliau.

Aku : “Pinten Pak?”.

Bapak : “10 ribu Mas”.

Aku : “Niki Pak uang-nya”.

Bapak : “Alhamdulillah, Barokallah. Matur suwun Mas” kata beliau.

Aku : “Njeh Pak Sami-sami”.

Pekerjaanya selesai dalam kurun waktu kurang dari 8 menit, perkiraanku sih mencapai kurang lebih 6 – 7 menitan. Semoga tidak keliru.

Setelah membetulkan posisi motor dan memarkirkannya di pinggir jalan, belum sempat aku berpamitan untuk melanjutkan perjalanan, beliau sudah memberikan pesan agar aku hati-hati dan sabar dijalan. Benar saja, jalan sudah mulai macet.

Bapak : “Atos-atos Mas, Sabar mawon ya, sudah mulai macet jalannya” pesan beliau.

Aku : “Njeh Pak, matur suwun. Monggo Pak” pamit ku sambik menghidupkan kembali kuda besiku.

Bapak : “Nggeh Mas, sami-sami”.

Ku teruskan perjalananku menuju tempat magang. berteman dengan kemacetan jalan bagiku sudah biasa selama 3 tahun ini, tapi di balik itu aku mendapatkan pelajaran hidup dari Bapak Penambal Ban. Matur suwon Pak.

Advertisements

Author: chotibul212

Salah satu anggota tetap Komunitas Linux UPN "veteran" Jawa Timur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s